Namun ia tidak banyak bertanya. Perlahan ia menuangkan sisa air tersebut ke dalam botol plastik yang dibawa perempuan itu. Belum sempat percakapan lain terjadi, perempuan tersebut langsung meminum air itu hingga habis. Selesai. Sesederhana itu. Bahkan Saibansah tidak sempat menanyakan nama perempuan tersebut. Namun entah mengapa, peristiwa singkat itu terus tinggal di dalam ingatannya.
Pengalaman serupa kembali terjadi. Kali ini di Masjidil Haram. Saat menjalani Tawaf Wada, di antara putaran-putaran yang kini bahkan sudah tidak lagi ia ingat jumlahnya, seorang pria berwajah khas India tiba-tiba memerhatikan botol air zamzam yang berada di tangannya.
Botol itu tidak penuh. Isinya tinggal sekitar setengah. Pria tersebut tidak berbicara banyak. Ia hanya menunjuk botol itu dengan pandangan yang seolah meminta izin.
“Saya berikan saja sisa air minum saya itu,” kenang Saibansah.
Lelaki itu menerimanya dengan wajah yang sulit dilupakan. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada perkenalan. Tidak ada foto bersama. Hanya perjumpaan singkat antara dua orang asing yang dipertemukan oleh setengah botol air zamzam.
Anehnya, peristiwa serupa terjadi lagi saat ia menjalani sa’i. Di tengah arus jemaah yang bergerak antara Shafa dan Marwah, seorang perempuan berwajah khas India yang duduk di kursi roda mengangkat tumblr plastik ke arah Saibansah. Ia tidak banyak bicara. Hanya memberi isyarat sederhana yang segera dipahami. Ia kehausan dan meminta dibawakan air zamzam.








