Sekali lagi, pertemuan itu berlangsung singkat. Namun ketika ketiga peristiwa itu diingat kembali, Saibansah merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika biasa. Mengapa berulang kali ia dipertemukan dengan orang-orang yang membutuhkan air? Mengapa bukan orang lain? Mengapa selalu air minum? Sampai hari ini ia tidak memiliki jawabannya.
Mungkin itu hanya kebetulan. Mungkin juga sebuah pelajaran yang sedang diajarkan Allah dengan cara yang sangat sederhana. Bahwa di Tanah Suci, berbagi tidak selalu berarti memberi sesuatu yang besar. Kadang hanya seteguk air. Kadang hanya sisa air di dalam botol plastik. Namun bagi orang yang membutuhkan, seteguk air itu bisa menjadi bentuk pertolongan yang tidak ternilai.
Seorang perempuan tua di pelataran Masjid Nabawi yang meminta sisa air minumnya. Seorang lelaki berwajah India yang meminta setengah botol air zamzam saat Tawaf Wada. Dan seorang perempuan di kursi roda yang meminta dibawakan air zamzam ketika sa’i. Tiga orang yang berbeda. Tiga tempat yang berbeda. Tiga peristiwa yang tidak saling berkaitan. Tetapi semuanya memiliki satu benang merah yang sama: air.
Saibansah tidak pernah benar-benar tahu apa makna dari rangkaian peristiwa tersebut. Apakah itu sekadar kebetulan? Ataukah ada pesan yang sedang Allah titipkan melalui cara-cara yang sangat sederhana? Ia tidak berani menyimpulkannya.








