Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi Saibansah, di situlah ia memahami bahwa tugas petugas haji seringkali sesederhana membantu seseorang menemukan jalan pulang. Mengantarkan mereka ke titik awal yang dapat mengarahkan mereka ke hotel atau tendanya menginap.
Padahal jauh sebelum mengenakan atribut PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji), kehidupan Saibansah lebih akrab dengan ruang redaksi, rapat liputan, dan tenggat berita. Pria yang akrab disapa Cak Iban itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia jurnalistik.
Kariernya dimulai sejak menjadi wartawan Harian Pagi Riau Pos (Jawa Pos Group) pada awal 1992-an. Sejak saat itu, puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk mengejar peristiwa, mencari narasumber, dan menuliskan cerita orang lain.
Namun musim haji tahun ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia datang ke Tanah Suci bukan untuk memburu berita. Ia datang untuk melayani.
Jalan Panjang Menuju Tanah Suci
Kesempatan itu tidak datang begitu saja. Sebagai wartawan dari media lokal di Sumatera, Saibansah harus bersaing dengan lebih dari sebelas ribu pendaftar petugas haji dari seluruh Indonesia.
Mereka berasal dari berbagai profesi dan latar belakang. Ada aparatur sipil negara, tenaga kesehatan, anggota TNI dan Polri, akademisi, aktivis organisasi kemasyarakatan Islam, hingga para profesional dari berbagai bidang.








