Namun lebih dari itu, ia akan pulang dengan pemahaman baru tentang makna pelayanan. Bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji bukan hanya ditentukan oleh sistem yang baik, melainkan oleh ketulusan orang-orang yang bekerja di balik layar. Bahwa melayani jemaah bukan sekadar tugas administratif. Bahwa membantu orang lain beribadah juga merupakan ibadah itu sendiri.
Di antara jutaan manusia yang datang memenuhi panggilan Allah, ada sebagian kecil orang yang dipilih untuk menjadi pelayan bagi para tamu-Nya. Dan bagi Cak Iban, kesempatan menjadi bagian dari kelompok kecil itu adalah anugerah yang sulit diukur dengan apa pun.
“Alhamdulillah, saya bisa menjalankan tugas melayani jemaah haji selama dua bulan lebih dan menerima bonus menunaikan ibadah haji,” tuturnya.
“Sungguh ini nikmat yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Ini adalah pencapaian tertinggi saya sebagai wartawan.”
Pria yang puluhan tahun menghabiskan hidupnya menuliskan kisah orang lain itu akhirnya membawa pulang satu cerita yang sangat personal. Sebagai wartawan, Saibansah Dardani terbiasa menuliskan kisah orang lain. Namun musim haji tahun ini memberinya satu cerita yang sangat personal.
Bahwa di antara jutaan manusia yang datang memenuhi panggilan Allah, ada sebagian kecil orang yang dipilih untuk melayani mereka. Dan sering kali, pengabdian itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: menunjukkan arah kepada yang tersesat, menemani yang kebingungan, atau sekadar berbagi seteguk air kepada orang yang membutuhkan.*








