Malam itu, selepas shalat Isya di Masjid Nabawi, suasana pelataran masjid masih ramai oleh jemaah dari berbagai negara. Sebagian berjalan menuju hotel, sebagian lagi memilih duduk menikmati malam Madinah yang mulai terasa sejuk setelah seharian diselimuti panas matahari.
Saibansah saat itu berjalan bersama Brata Manggala, sesama petugas MCH Daker Madinah. Di tangannya tergenggam sebuah botol plastik berisi air minum yang tinggal tersisa sebagian.
Tiba-tiba seorang perempuan tua menghampirinya. Perempuan itu datang seorang diri. Wajahnya terlihat lelah. Tidak banyak bicara. Tatapannya justru tertuju pada botol yang sedang dipegang Saibansah.
Awalnya Saibansah mengira perempuan itu ingin menanyakan sesuatu. Namun ternyata tidak. Perempuan itu hanya menunjuk botol air minum di tangannya.
“Saya ambilkan air di Masjid Nabawi ya, Bu?” tawar Saibansah.
Di sekitar mereka, gentong air zamzam tersedia di banyak titik. Mengambilkan air baru tentu bukan perkara sulit. Tetapi perempuan itu menggeleng pelan.
“Tidak usah. Itu saja, Pak,” jawabnya sambil tetap menunjuk sisa air minum di tangan Saibansah.
Saibansah sempat terdiam. Permintaan itu terasa ganjil. Mengapa perempuan itu memilih meminta sisa air minum miliknya, bukan mengambil air yang tersedia begitu banyak di sekitar Masjid Nabawi?








