Amsakar menyebut, persepsi Batam sebagai “tanah harapan” dengan peluang kerja menjanjikan di sektor manufaktur dan digital menjadi magnet utama yang sulit dibendung.
Lantas, apa rahasia dapur Pemko Batam agar warga lokal nggak cuma jadi penonton? Amsakar memaparkan tiga strategi utama:
Planning yang Matang: Perencanaan tenaga kerja yang presisi agar suplai pekerja sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur maju.
Upgrade Skill: Pelatihan kerja intensif untuk memangkas kesenjangan kompetensi, terutama di era transformasi digital.
Kolaborasi Masif: Memperkuat “circle” bareng perusahaan swasta, universitas, hingga Balai Latihan Kerja (BLK) milik pusat.
Amsakar tidak menampik bahwa masuknya tenaga kerja dengan keterampilan terbatas menjadi tantangan berat. Oleh karena itu, fokus Batam saat ini adalah mendorong transformasi industri ke arah digital dan manufaktur canggih.
“Kami terus memperkuat kolaborasi dengan lembaga vokasi dan penyalur tenaga kerja resmi. Tujuannya jelas, meningkatkan daya saing tenaga kerja kita di tengah persaingan yang makin ngeri-ngeri sedap,” tambahnya.
Dengan strategi “sat-set” ini, Amsakar optimistis Batam tetap bisa mempertahankan statusnya sebagai lokomotif ekonomi nasional tanpa harus mengorbankan kesejahteraan warga lokalnya.













