Menurut Kamsiah, keberatan masyarakat bukan didasari pada penolakan program pendidikan, melainkan lokasi penempatan plang yang dinilai keliru dan sepihak.
Warga menyebut titik koordinat pembangunan Sekolah Rakyat sebenarnya masih jauh dari lokasi plang yang dipasang hari ini.
“Plang sudah berada di tengah kampung warga, di atas lahan yang selama ini dikuasai masyarakat. Alasan untuk pembangunan sekolah rakyat ini tidak masuk akal bagi kami karena lokasinya berbeda,” tambahnya.
Peristiwa Selasa pagi ini menambah panjang daftar gesekan horizontal yang terjadi di Pulau Rempang dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan catatan warga, pasca-cekcok hari ini, sedikitnya sudah ada lima plang klaim BP Batam yang tertanam di atas lahan produktif masyarakat.
Kamsiah membeberkan, sebelum insiden ini, warga sempat memergoki dua orang tidak dikenal yang menyelinap ke area perbukitan kampung untuk memasang patok pembatas secara diam-diam.
“Sebelum ini sudah sering kejadian. Kemarin ada dua orang tak dikenal masuk kampung, menyelinap di atas bukit memasang patok di dalam lahan warga. Mereka sempat dikejar tetapi kabur menggunakan motor besar,” ungkap Kamsiah.
Kondisi ini memicu keresahan psikologis yang mendalam bagi warga lokal. Proyek strategis yang semula diharapkan membawa dampak positif, kini dinilai warga justru mengubah ruang hidup mereka menjadi penuh tekanan.













