Perjalanan perjuangan pasca-peristiwa itu membawa pengaruh Raja Ali meluas secara fenomenal. Beliau tercatat melakukan pergerakan militer dan politik hingga ke Sukadana (Kalimantan Barat), terlibat perang saudara dengan Tengku Muda Muhammad, serta menanamkan pengaruhnya di Mempawah, Selangor, hingga Siantan (Kepulauan Anambas saat ini).
Asal-usul Gelar ‘Marhum Pulau Bayan’
Hubungan antara Raja Ali dan Pulau Bayan adalah romansa sejarah yang tidak terpisahkan. Gelar Marhum Pulau Bayan merupakan gelar posthumous (penghormatan setelah wafat) yang diberikan generasi hari ini karena sang panglima besar dimakamkan di Pulau Bayan, sebuah pulau yang menjadi saksi bisu benteng pertahanan melayu melawan kolonial.
Penyematan nama besar ini di jalur utama Bandara Hang Nadim diselaraskan dengan tugu megah berbentuk Tanjak (simbol kehormatan dan marwah Melayu) serta ornamen Tepak Sirih (simbol kehangatan penyambutan tamu).
“Kita ingin semangat historis tetap hidup, namun pada saat yang sama Batam harus terus melangkah menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan jati diri negerinya,” tegas Kepala BP Batam, Amsakar Achmad.













