Ketua Bidang Penelitian, Pengkajian dan Penulisan Adat Budaya Melayu LAMKR Kota Tanjungpinang, Dato Rendra Setyadiharja, mengungkapkan bahwa pasca-gugurnya Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali langsung bergerak cepat memperkuat benteng pertahanan.
“Raja Ali kembali memperkuat pertahanan pada pintu masuk ke teluk dengan meriam-meriam dan kapal-kapal bersenjata. Beliau adalah tokoh utama yang melanjutkan perjuangan Raja Haji Fisabilillah,” ujar Dato Rendra.
Fragmen Sejarah: Pertempuran Melawan Armada Van Braam
Masa jabatan Raja Ali diwarnai dengan gejolak militer yang sengit. Pada akhir tahun 1784, armada militer Belanda yang dipimpin langsung oleh Jacob Pieter Van Braam menggunakan kapal perang Utrecht dan Hinlopen mengepung perairan Riau.
Belanda sempat mengirimkan utusan, yakni Kapten-Letnan Infanteri Dirk van Hogendrop dan Letnan Laut Connel, untuk membujuk Sultan Mahmud Riayat Syah berunding di atas kapal. Namun, situasi memanas hingga pecah Perang Riau Fase Kedua.
Dalam dinamika pertempuran sengit tersebut, Raja Ali sempat menghadapi situasi sulit pertahanan. Pada 30 Oktober 1784, secara gerilya, Raja Ali bersama 200 pasukan Bugis dan ribuan masyarakat Melayu keluar meninggalkan Riau melalui Terusan Riau untuk menyusun strategi baru. Kepergian ini disusul dengan jatuhnya benteng Tanjungpinang dan benteng di Pulau Bayan ke tangan Belanda pada 1 November 1784, yang memicu lahirnya Kapitulasi Van Braam.













