Boleh jadi, nama Raden Sadjad sebenarnya terlupakan disamping ketenaran pilot asal Madura, Halim Perdanakusuma, yang ikut menerbangkan pesawat pengembom Lanchester Inggris pada tahun 1943-1944. Saat itu, Angkatan Udara Inggris melakukan pengeboman Kota Berlin Nazi Jerman yang dikenal untuk menghancurkan berbagai sasaran.
Nama tenar Sadjad dimulai pada Januari 1942 saat masih kadet penerbang, ia “ditantang” taruhan gaji sampai ratusan Gulden Belanda dengan kadet Belanda, Noordraven.
Saat itu, Sadjad ditantang untuk menerbangkan manuver pesawat pembom terbaru milik Angkatan Udara Hindia Belanda, yaitu B-25 Mitchell.
Saat itu, Belanda dipasok sejumlah pesawat B-25 Mitchell dari Amerika dan Australia ke Lapangan Terbang Andir, untuk memperkuat pertahanan Kota Bandung dari ancaman serbuan Jepang.
Sadjad kemudian menang taruhan, karena mampu menerbangkan B-25 Mitchell bermanuver jungkir balik, di atas pemakaman Sirnaraga dekat Lapangan terbang Andir. Segera saja nama Sadjad menjadi perhatian pasukan Amerika dan Belanda, walau kemudian Lapangan Terbang Andir jatuh ke tangan Jepang pada Maret 1942.
Pasca penyerahan di Kalijati Subang, 8 Maret 1942, Belanda bersama Inggris, Amerika, dan Australia melanjutkan perang dengan Jepang di perairan Indonesia dan daratan Asia Tenggara. Sadjad direkrut sebagai co-pilot pesawat pembom yang ditugaskan ke Burma (kini Myanmar).
Selanjutnya: Sempat dikira gugur usai pesawat ditembak…













