Pesawat tersebut tertembak pesawat pemburu Jepang dan jatuh di hutan, namun ia selamat. Lima bulan kemudian, Sadjad pulang ke Tasikmalaya, padahal keluarganya sudah tahlilan karena menyangka sudah gugur.
Pasca perebutan Pulau Morotai, Kep. Maluku, pada tahun 1945, pasukan Amerika dibawah komando Jenderal Mac Arthur mempercayakan Sadjad menjadi penguasa Lapangan Terbang Morotai. Para penerbang Amerika dan sekutu segan kepada Sadjad, yang juga sangat disukai penduduk pribumi, sehingga tentara Amerika menjulukinya sebagai “King Sadjad”.
Saat era Perang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1946, Sadjad kembali ke Bandung, lalu merakit dan mengaktifkan kembali sebuah pesawat pembom Bristol Blenheim eks Belanda dengan memasang mesin Sakai eks Jepang. Walau kemudian pesawat tersebut sempat terperosok di Pemakaman Sirnaraga Bandung dan Maospati Madiun, Sadjad memperoleh “hadiah” satu slof rokok jadul Kansas dari Panglima Jenderal Soedirman.
Menjelang tahun 1947, Sadjad pula yang memulihkan empat pesawat pemburu Messerschmidt Bfio9 E7 eks AU Jepang pasokan Luftwaffe (AU Nazi Jerman) untuk digunakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pada tahun 1941, Jepang memperoleh lima buah Bfi09 E7 eks Jepang yang dipasok Nazi Jerman, di mana empat di antaranya berbasis di Lapangan Terbang Andir Bandung.
Namun keempat pesawat Bfi09 E7 AURI tersebut tamat riwayatnya saat serbuan pasukan Belanda melalui Operasi Gagak pada 10 Desember 1948 di Yogyakarta. Berbagai pesawat tempur milik AURI dihancurkan Belanda saat berada di Lapangan Terbang Maguwo, termasuk keempat Bfiog E-7 itu.
Selanjutnya: Komandan lapangan terbang Morotai dan perintis AURI..













