KepriNatunaZona Headline

Kisah Raden Sadjad Pilot Pesawat Pembom RI, Namanya Jadi Bandara Natuna

1419
×

Kisah Raden Sadjad Pilot Pesawat Pembom RI, Namanya Jadi Bandara Natuna

Share this article
ist
banner 468x60

Pesawat tersebut tertembak pesawat pemburu Jepang dan jatuh di hutan, namun ia selamat. Lima bulan kemudian, Sadjad pulang ke Tasikmalaya, padahal keluarganya sudah tahlilan karena menyangka sudah gugur.

Pasca perebutan Pulau Morotai, Kep. Maluku, pada tahun 1945, pasukan Amerika dibawah komando Jenderal Mac Arthur mempercayakan Sadjad menjadi penguasa Lapangan Terbang Morotai. Para penerbang Amerika dan sekutu segan kepada Sadjad, yang juga sangat disukai penduduk pribumi, sehingga tentara Amerika menjulukinya sebagai “King Sadjad”.

BACA JUGA:  Suplai Air Mati Total di Belasan Wilayah Batam, Begini Update Terbaru dari Lokasi Perbaikan

Saat era Perang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1946, Sadjad kembali ke Bandung, lalu merakit dan mengaktifkan kembali sebuah pesawat pembom Bristol Blenheim eks Belanda dengan memasang mesin Sakai eks Jepang. Walau kemudian pesawat tersebut sempat terperosok di Pemakaman Sirnaraga Bandung dan Maospati Madiun, Sadjad memperoleh “hadiah” satu slof rokok jadul Kansas dari Panglima Jenderal Soedirman.

BACA JUGA:  Guna Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan, Ombudsman Kepri Minta Kepala Daerah Segera Tindak Lanjuti Inpres Nomor 11 Tahun 2026

Menjelang tahun 1947, Sadjad pula yang memulihkan empat pesawat pemburu Messerschmidt Bfio9 E7 eks AU Jepang pasokan Luftwaffe (AU Nazi Jerman) untuk digunakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pada tahun 1941, Jepang memperoleh lima buah Bfi09 E7 eks Jepang yang dipasok Nazi Jerman, di mana empat di antaranya berbasis di Lapangan Terbang Andir Bandung.

BACA JUGA:  Tiga Pekan Diselimuti Kabut Asap Karhutla Kalimantan, Sekolah di Serasan Natuna Meliburkan Siswa dan 52 Warga Kena ISPA

Namun keempat pesawat Bfi09 E7 AURI tersebut tamat riwayatnya saat serbuan pasukan Belanda melalui Operasi Gagak pada 10 Desember 1948 di Yogyakarta. Berbagai pesawat tempur milik AURI dihancurkan Belanda saat berada di Lapangan Terbang Maguwo, termasuk keempat Bfiog E-7 itu.

Selanjutnya: Komandan lapangan terbang Morotai dan perintis AURI..