KepriNatunaZona Headline

Kisah Raden Sadjad Pilot Pesawat Pembom RI, Namanya Jadi Bandara Natuna

1391
×

Kisah Raden Sadjad Pilot Pesawat Pembom RI, Namanya Jadi Bandara Natuna

Share this article
ist
banner 468x60

Pesawat tersebut tertembak pesawat pemburu Jepang dan jatuh di hutan, namun ia selamat. Lima bulan kemudian, Sadjad pulang ke Tasikmalaya, padahal keluarganya sudah tahlilan karena menyangka sudah gugur.

Pasca perebutan Pulau Morotai, Kep. Maluku, pada tahun 1945, pasukan Amerika dibawah komando Jenderal Mac Arthur mempercayakan Sadjad menjadi penguasa Lapangan Terbang Morotai. Para penerbang Amerika dan sekutu segan kepada Sadjad, yang juga sangat disukai penduduk pribumi, sehingga tentara Amerika menjulukinya sebagai “King Sadjad”.

BACA JUGA:  Ekosistem Pulau Tiga Hancur! Nelayan Rekam Detik-detik Kapal Ilegal Bom Ikan di Natuna

Saat era Perang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1946, Sadjad kembali ke Bandung, lalu merakit dan mengaktifkan kembali sebuah pesawat pembom Bristol Blenheim eks Belanda dengan memasang mesin Sakai eks Jepang. Walau kemudian pesawat tersebut sempat terperosok di Pemakaman Sirnaraga Bandung dan Maospati Madiun, Sadjad memperoleh “hadiah” satu slof rokok jadul Kansas dari Panglima Jenderal Soedirman.

BACA JUGA:  Natuna Siapkan 500 Hektare Kebun Kelapa Baru, Cen Sui Lan: Petani Dapat Bantuan Rp2 Juta per Hektare

Menjelang tahun 1947, Sadjad pula yang memulihkan empat pesawat pemburu Messerschmidt Bfio9 E7 eks AU Jepang pasokan Luftwaffe (AU Nazi Jerman) untuk digunakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pada tahun 1941, Jepang memperoleh lima buah Bfi09 E7 eks Jepang yang dipasok Nazi Jerman, di mana empat di antaranya berbasis di Lapangan Terbang Andir Bandung.

BACA JUGA:  Tragis! Rambut Tersambar Mesin Perahu, Bocah di Natuna Alami Luka Berat di Kepala

Namun keempat pesawat Bfi09 E7 AURI tersebut tamat riwayatnya saat serbuan pasukan Belanda melalui Operasi Gagak pada 10 Desember 1948 di Yogyakarta. Berbagai pesawat tempur milik AURI dihancurkan Belanda saat berada di Lapangan Terbang Maguwo, termasuk keempat Bfiog E-7 itu.

Selanjutnya: Komandan lapangan terbang Morotai dan perintis AURI..