Pada tahun 1952, Sadjad ditugaskan kembali menjadi Komandan Lapangan Terbang Morotai, yang kali ini sudah dikelola AURI. Sadjad kemudian dijadikan andalan AURI untuk mengembangkan lapangan terbang tersebut menjadi pangkalan udara, dengan bantuan masyarakat pribumi karena sangat menyukainya, dan sering mengadakan pertunjukan layar tancap di sana.
Raden Sadjad pula lah, yang bersama Letkol Salatun, yang berhasil “mengompori” Presiden Soekarno agar membeli pesawat pembom tercanggih masa itu, TU-16 Badger buatan Uni Soviet yang berkemampuan membawa senjata nuklir. Saat itu keperluannya untuk Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat tahun 1961-1962, lantaran Belanda mengirimkan kapal induk Kareel Doorman.
Disebutkan, Raden Sadjad sudah meninggal karena usia tua dengan terakhir berpangkat terakhir mayor udara. Namun tak seperti umumnya tokoh yang dianggap berjasa bagi perjuangan Indonesia lainnya, Raden Sadjad dimakamkan di makam umum Karang Nangka, pinggiran Lapangan Sepakbola Sukamantri, Kec. Ciawi, Kab. Tasikmalaya.
Raden Sadjad juga dikenal sebagai perintis AURI (kini TNI-AU) sekaligus peletak dasar penerbangan, yang juga memperoleh Bintang Sakti, Bintang Swabhuana Paksa, Nararia, Bintang Gerilya.













