Kini, Shinta kembali ke sel tahanan dengan langkah gontai. Di dalam tas selempang yang dulu berisi ekstasi pesanan pacarnya, kini hanya tersisa ruang kosong—sama kosongnya dengan masa depan anak disabilitasnya yang kini terombang-ambing tanpa kepastian.
Shinta telah membayar mahal sebuah rasa percaya. Ia tidak hanya kehilangan kebebasannya, tapi ia kehilangan waktu berharga untuk merawat darah dagingnya sendiri, semua karena cinta buta pada lelaki yang kini juga meringkuk di sel berbeda.













