Gudangberita.co.id – Di balik label “beras premium” yang dijual di pasar-pasar Batam dengan harga Rp14.600–Rp14.800 per kilogram, tersembunyi praktik kotor yang mencederai kepercayaan konsumen dan menghancurkan ekosistem pangan nasional.
Investigasi terkini mengungkap bahwa beras impor murah dari Vietnam, Thailand, dan Myanmar diselundupkan ke Batam, dicampur ulang dengan beras lokal kualitas rendah, dikemas ulang menggunakan merek fiktif, lalu dijual sebagai beras premium.
Praktik pengoplosan ini tidak hanya menipu rakyat, tapi juga menggambarkan skema mafia pangan yang terorganisir dan dilindungi.
Beras Murah Jadi Emas: Untung Ratusan Miliar, Rugi untuk Petani dan Negara
Harga beras di Thailand, berdasarkan laporan lapangan, hanya sekitar 10 bath atau Rp5.050 per kilogram. Setelah dihitung dengan ongkos distribusi dan “entertainment untuk pengamanan”, harga tiba di Batam diperkirakan sekitar Rp6.500–Rp7.500 per kilogram.
Namun di tangan para pemain besar, beras ini dipoles ulang, diklaim sebagai “premium”, dan dijual dengan margin selangit. Setiap kilogram bisa menghasilkan keuntungan bersih yang mencekik logika ekonomi: total keuntungan diperkirakan mencapai Rp50–80 miliar per bulan!












