Jumlah orang yang tertangkap menggunakan dan memiliki vape terus meningkat kendati larangan itu diterapkan lima tahun terakhir. Bahkan, beberapa anak sekolah pun ikut melakukan kebiasaan tersebut.
Beberapa pengguna mendapatkan pasokannya secara online dari aplikasi pesan, seperti Telegram atau ketika mereka pergi ke luar negeri.
“Oleh karena itu kami mengambil langkah-langkah untuk melindungi populasi kami dan mencegah vape menyebar ke masyarakat kami,” begitulah keterangan Kementerian Kesehatan dan HSA.
Sasar tempat umum dan berikan edukasi
Selain di pos pemeriksaan perbatasan, pemeriksaan akan ditingkatkan di tempat-tempat seperti kawasan pusat bisnis, pusat perbelanjaan, taman, area merokok, serta tempat hiburan umum seperti bar dan klub. Pihak berwenang menggambarkan tempat ini sebagai ‘hotspot umum, dan menambahkan bahwa pelanggar akan dikenakan denda saat itu juga.
Kementerian Kesehatan dan HSA mencatat bahwa sejak 1 Desember, petugas penegakan hukum dari Badan Lingkungan Hidup Nasional telah diberi wewenang untuk mengambil tindakan terhadap orang-orang yang menggunakan atau memiliki vape. Mereka juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Otoritas Pengembangan Media Infokom untuk meningkatkan deteksi dan penghapusan penjualan dan iklan vape secara online.













