Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi membawa kita pada inti persoalan pembangunan dua kawasan yang secara geografis serupa namun secara kemajuan terpaut jauh. Batam dan Singapura hanya dipisahkan jarak tempuh 20 menit menggunakan kapal cepat.
Luas wilayahnya nyaris setara. Keduanya berada di jalur strategis Selat Malaka. Tetapi satu tumbuh menjadi pusat keuangan dan teknologi dunia, sementara lainnya masih berkutat pada konsolidasi industri dan persoalan dasar tata kelola.
Apa sebenarnya yang salah dari Batam, dan apa yang benar dari Singapura?
Pertama-tama, kita harus menelisik tata kelola pemerintahan. Singapura sejak awal membangun institusi yang bersih, efisien, dan berbasis meritokrasi. Birokrasinya ramping, keputusannya cepat, regulasinya konsisten lintas generasi. Bagi investor global, faktor kepastian jauh lebih penting dibanding sekadar insentif fiskal. Singapura menawarkan kepastian itu.
Di Batam, persoalan tumpang tindih kewenangan antara Pemko Batam dan BP Batam menjadi hambatan struktural yang belum sepenuhnya terpecahkan. Fragmentasi kebijakan menciptakan ketidakpastian, memperlambat layanan publik, dan mengurangi daya tarik investasi jangka panjang. Inilah salah satu “yang salah” dari Batam: potensi besar yang tersandera oleh desain kelembagaan yang belum stabil.













