Gudangberita.co.id, Batam – Aksi bajak laut di perairan Selat Philips, Kepulauan Riau, kini memasuki era digital. Direktorat Polairud Polda Kepri mengungkap modus baru yang digunakan komplotan perampok laut: mereka memanfaatkan aplikasi pelacak kapal berbasis internet untuk mengintai pergerakan kapal asing yang melintas di jalur strategis perbatasan Indonesia-Singapura.
Sebanyak 11 orang pelaku ditangkap dalam operasi penindakan pada Kamis (10/7), usai merampok kapal tanker MT Thom Elisabeth berbendera Liberia. Kapal tersebut sedang melintas lambat di perairan Selat Philips—kondisi yang ideal bagi para pelaku untuk naik dan menjarah.
“Mereka tidak bergerak sembarangan. Mereka pantau dulu kapal target lewat aplikasi pelacak kapal di internet. Begitu tahu kapal asing melambat di titik tertentu, langsung bergerak,” ungkap Dirpolairud Polda Kepri, Kombes Handono Subiakto, Senin (14/7/2025).
Dalam setiap aksinya, para pelaku menggunakan kapal pompong kecil untuk mendekati kapal besar secara diam-diam. Begitu berada cukup dekat, mereka menggunakan galah bertali untuk naik ke kapal sasaran.
Setelah berada di atas kapal, mereka menggasak sparepart mesin dan barang berharga lainnya, lalu kabur dalam hitungan menit. Pelaku mengaku aksi seperti ini telah mereka lakukan sejak 2017 hingga 2025, dengan keuntungan mencapai Rp 100 juta dalam sekali beraksi.













