Rekam Jejak Kegagalan: Akankah Sejarah Berulang?
Publik Batam tentu tidak lupa bahwa Pasar Induk Jodoh adalah “monumen kegagalan” masa lalu. Dibangun tahun 2001 dengan anggaran sekitar Rp94 miliar, pasar ini hidup “segan mati tak mau” sejak diresmikan tahun 2004.
Beberapa poin kritis yang menjadi catatan hitam pasar ini antara lain:
KSO yang Kandas: Kerja sama dengan PT Golden Tirta Asia (GTA) diputus pada 2011.
Janji Pusat yang Menguap: Rencana revitalisasi senilai Rp334 miliar dari Kementerian PUPR pada 2021 menuntut pembongkaran total bangunan lama, namun hingga 2026 fisik bangunan tak kunjung berdiri.
Kumuh dan Jorok: Kondisi lokasi saat ini jauh dari kesan pusat ekonomi modern; jorok, kumuh, dan minim akses pembeli bagi pedagang yang bertahan di sekitarnya.
Para pedagang yang kini berhimpitan di sekitar lokasi atau yang mengungsi ke kawasan Tos 3000 menanggapi dingin kabar kerja sama baru ini.
Mereka mengaku belum ada pendataan konkret dari Disperindag Batam terkait penempatan ribuan kios yang dijanjikan.
“Sejak dibongkar 2021, kami hanya lihat lahan kosong dan beton. Kami harap kali ini benar-benar dibangun, bukan cuma tanda tangan di atas kertas,” keluh salah satu pedagang di kawasan Jodoh.







