Namun, suasana kini berubah. Pembangunan deretan ruko di kaki bukit, tepat di depan landmark tersebut, memunculkan banyak pertanyaan. Proyek ini tidak hanya mengubah lanskap estetika landmark, tetapi juga memicu diskusi panas di media sosial.
Pemandangan ikonik tulisan “Welcome to Batam”, terutama dari Alun-Alun Engku Putri, kini tertutup oleh deretan bangunan ruko, membuat wisatawan kehilangan momen sempurna untuk berfoto.
Banyak warga Batam menyayangkan, bagaimana ikon kebanggaan mereka kini “terkepung” bangunan komersial.
“Kalau dulu, foto di depan tulisan Welcome to Batam itu wajib. Tapi sekarang, pemandangannya terganggu oleh ruko. Rasanya kurang berkesan,” kata seorang pengunjung. Bahkan, beberapa wisatawan mancanegara mengungkapkan kekecewaan serupa di media sosial.
Perspektif Warga dan Wisatawan
Menurut beberapa sumber, proyek tersebut dianggap melanggar etika tata ruang kota. “Ini bukan hanya soal bangunan, tapi soal identitas kota yang mulai kehilangan esensinya,” ujar seorang pemerhati arsitektur di Batam. Wisatawan pun merasa kehilangan pengalaman autentik yang biasanya mereka dapatkan.
Di sisi lain, para pengembang proyek mengklaim bahwa pembangunan ini akan mendukung perekonomian lokal dengan menyediakan ruang usaha baru.













