“Proyek ini akan membantu menghidupkan kawasan sekitar dan menciptakan lapangan kerja bagi warga Batam,” ujar salah satu perwakilan pengembang.
Namun, warga menilai alasan tersebut tidak cukup. “Pembangunan ruko bisa dilakukan di tempat lain. Kenapa harus di lokasi yang sudah jadi ikon kota? Ini merugikan pariwisata,” kata salah satu tokoh masyarakat lokal.
Para pengamat berharap pemerintah kota dapat menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian landmark budaya.
Salah satu solusinya adalah penataan ulang proyek agar tidak menghalangi pandangan langsung ke tulisan “Welcome to Batam”.
“Kompromi harus dicapai. Landmark ini bukan hanya milik Batam, tapi juga milik Indonesia sebagai wajah pariwisata,” tambah seorang aktivis lingkungan.
Landmark “Welcome to Batam” bukan sekadar tulisan besar di atas bukit. Ia adalah cerita, memori, dan identitas yang melekat pada kota ini.
Kini, saat identitas tersebut terancam, apakah pembangunan ekonomi harus selalu menjadi prioritas utama? Atau adakah cara lain untuk mempertahankan keindahan landmark sembari tetap maju? Semua ini menjadi tantangan bagi masa depan Batam.













