Di sebuah ruangan di RSUD Embung Fatimah, Batam, suasana kini jauh lebih tenang bagi RAL. Tubuh mungilnya kini didekap oleh perawatan medis yang semestinya. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) bersama tim psikolog telah turun tangan, perlahan meraba dan menyembuhkan trauma serta psikis anak yang runtuh.
Mata kanan RAL yang sempat membengkak selama tiga hari hingga tidak bisa melihat, perlahan mulai bisa terbuka kembali. Di balik kelopak mata yang terluka itu, publik Batam menanti satu hal yang sempat dirampas darinya: binar kebahagiaan dan senyum polos seorang anak berusia 9 tahun yang berhak bermain tanpa harus ketakutan.
Penderitaan fisik dan batin yang dialami RAL (9) di Kavling Kamboja, Sagulung, Batam, menjadi potret kelam hancurnya fungsi perlindungan di dalam keluarga. Bocah perempuan malang ini tidak hanya dipaksa menahan rasa sakit luar biasa akibat dijadikan samsak hidup oleh ibu tirinya, VJ (38), tetapi juga harus menerima kenyataan pahit dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
Jeritan hati RAL semakin menyayat hati publik setelah terungkap bahwa air mata dan tubuh lebamnya justru dieksploitasi dan “dijual” oleh ayah kandungnya, RL, demi meraup keuntungan finansial lewat modus donasi.












