Gudangberita.co.id, Batam — Proyek penataan estetika kota di jalur strategis menuju Bandara Internasional Hang Nadim resmi dimulai. Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, memimpin langsung peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan bundaran megah tersebut pada Jumat (10/7/2026).
Namun, ada satu hal yang mencuri perhatian publik. Infrastruktur yang semula direncanakan mengusung nama Bundaran Hang Nadim tersebut kini resmi berganti nama menjadi Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V.
Langkah monumental yang diambil setelah diskusi mendalam dengan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam ini langsung memicu rasa penasaran publik: Siapa sebenarnya sosok Raja Ali Marhum Pulau Bayan dan bagaimana rekam jejak historisnya di Bumi Segantang Lada?
Penerus Perjuangan Raja Haji Fisabilillah di Perang Riau II
Raja Ali Ibni Daeng Kamboja merupakan keturunan langsung dari Daeng Kamboja dan Daeng Parani. Sosok fenomenal ini terpilih menjadi Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau V setelah mangkatnya pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah (YDM Riau IV) yang gugur secara heroik di Teluk Ketapang, Melaka, pada 18 Juni 1784.
Jika Raja Haji Fisabilillah adalah tokoh paling berpengaruh pada Perang Riau I (1782–1784), maka Raja Ali adalah panglima tangguh yang melanjutkan tongkat estafet perjuangan tersebut dalam Perang Riau II (1784–1787).













