Bagi sebagian besar anak-anak, es krim adalah simbol kebahagiaan sederhana. Namun, bagi RAL, sebuah es krim dan sebungkus nasi di siang bolong itu adalah kunci pembuka pintu keluar dari sebuah “neraka” yang selama ini menyekapnya di Kavling Kamboja, Blok BB 69, Kelurahan Sei Pelunggut, Kecamatan Sagulung, Batam.
Bocah perempuan berusia 9 tahun itu berhasil dievakuasi dari kungkungan kekerasan yang begitu pekat. Penyelamatnya bukanlah kerabat dekat, melainkan ketukan pintu dari tiga pria berjaket ojek online para anggota Satgas Komunitas Andalan Driver Online (KOMANDO) Batam yang menaruh curiga pada sebuah pesan berantai di grup WhatsApp mereka.
Mahkota yang Dirampas dan Mata yang Bersembunyi di Balik Lebam

Jumat siang, 19 Juni 2026, menjadi awal mula berakhirnya penderitaan panjang RAL. Ketika melangkah keluar rumah bersama para driver online yang menjemputnya dengan dalih membelikan makanan ringan, pemandangan luar tubuh bocah itu langsung membuat dada para penjemputnya sesak.
Rambut panjang yang biasanya menjadi mahkota kebanggaan seorang anak perempuan, tampak terpotong pendek secara asal-asalan, digunting tak karuan hingga menyisakan helai-helai pitak yang berantakan. Mata kanannya lebam membiru, membengkak hebat hingga menutupi pandangannya.
“Kami bawa dia keluar rumah dengan alasan beli es krim dan nasi. Saat sudah jauh dari rumah, di situlah dia baru berani menangis dan mengaku jujur dipukul oleh ibu tirinya,” kenang Okka, Wakil Ketua Satgas KOMANDO Batam, dengan suara tertahan.
Saat pakaian korban dibuka, kenyataan jauh lebih mengerikan dari sekadar memar di wajah. Sekujur tubuh mungil itu dipenuhi guratan luka. Ada bekas bilur dari hantaman kayu dan sapu, bekas cakaran yang mendalam di pipi akibat cengkeraman paksa, hingga lingkaran-lingkaran hitam kecil yang mengering—bekas sundutan rokok.












