Gudangberita.co.id, Natuna – Tawa kecil Fikri (5) biasanya menjadi musik sore di pesisir Batu Kapal. Ia berlari di celah-celah batu besar, bermain di pinggir aliran sungai kecil yang selama bertahun-tahun menampung limbah rumah tangga. Di situlah ia dan puluhan anak lain tumbuh di tengah kawasan kumuh yang telah menjadi rumah, halaman, dan dunia kecil mereka.
Hari itu, semua berubah. Tawa itu masih ada, tetapi bernada berbeda—campuran haru, syukur, dan lega. Fikri dan 56 keluarga lainnya resmi meninggalkan rumah-rumah tak layak huni di Batu Kapal untuk sebuah awal baru: hunian kopel tipe 36 di Perumahan Kampung Puak.
Minggu (23/11/2025), suasana di perumahan baru itu sulit digambarkan dengan kata-kata. Puluhan warga Batu Kapal terlihat berkaca-kaca ketika satu per satu nama mereka dipanggil untuk menerima sertifikat rumah, dokumen yang selama ini hanya menjadi mimpi.
Di antara mereka, Ujang tak mampu menahan getar suaranya.
“Terima kasih, Bu Bupati… kami tak ada kata-kata lagi,” ujarnya, menahan haru.
Rumah-rumah dengan cat baru yang masih beraroma segar menjadi saksi bagaimana mimpi puluhan keluarga akhirnya menjelma nyata. Banyak warga menunduk, menyeka air mata, bahasa kelegaan yang tak butuh terjemahan.













