Meskipun benteng moneter diperkuat akibat krisis global, Bank Indonesia tetap optimis terhadap momentum pertumbuhan ekonomi domestik. BI memprakirakan ekonomi Indonesia tahun 2026 tetap tumbuh kuat di kisaran 4,9–5,7%.
Optimisme ini didukung oleh permintaan domestik yang meningkat, terutama konsumsi rumah tangga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H, yang disokong oleh pemberian THR dan insentif Pemerintah.
Ketahanan sistem keuangan Indonesia juga dilaporkan tetap solid untuk memitigasi risiko rambatan perang. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan berada di level tinggi sebesar 25,87% dengan risiko kredit (NPL) yang tetap rendah.













