BatamLayanan PublikZona Headline

Pengamat: Waduk Sei Harapan Jadi Simbol Lemahnya Manajemen Sumber Daya Air di Batam

865
×

Pengamat: Waduk Sei Harapan Jadi Simbol Lemahnya Manajemen Sumber Daya Air di Batam

Share this article
Dam Sei Harapan, sumber bahan baku IPA Sei Harapan (ilustrasi)
banner 468x60

Mujiaman Sukirno, Direktur PT Air Batam Hulu–Hilir, mengungkapkan bahwa tingkat kekeruhan air di Waduk Sei Harapan sempat mencapai 225 NTU, jauh di atas ambang batas normal.

Meski kini telah turun menjadi 4-11 NTU setelah flushing, pertanyaan besar tetap mengemuka: mengapa manajemen air Batam gagal mengantisipasi dampak hujan deras yang notabene merupakan fenomena tahunan di wilayah ini?

BACA JUGA:  Cen Sui Lan Dorong Pembangunan Pelabuhan Pulau Panjang Jadi Prioritas Nasional

Kerugian Meluas, Kritik Publik Menguat

Pengamat pelayanan publik Tri Depae menyebut penghentian suplai air ini sebagai tindakan “memalukan” dalam sejarah pengelolaan air di Batam. Ia bahkan membandingkan kondisi ini dengan era PT Adhya Tirta Batam (ATB), operator sebelumnya, yang dinilai lebih andal dalam menangani krisis.

“Ini pertama kali dalam sejarah Batam suplai air dihentikan total seperti ini. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, rumah sakit, industri, hingga pelabuhan,” kritiknya. Daerah-daerah terdampak mencakup Patam Lestari, Sekupang, hingga kawasan industri strategis.

BACA JUGA:  Janji Diana yang Tak Pernah Terwujud: Ingin Temui Buah Hati di Tanjung Bungsu Usai Lebaran

Banyak warga kecewa dengan absennya rencana kontingensi yang memadai. Penyediaan truk tangki dianggap tidak efisien dan membatasi akses air bersih bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah padat penduduk.

“Mengapa tidak ada mekanisme cadangan seperti instalasi pengolahan tambahan atau penyimpanan air sementara?” keluh salah satu warga Patam Lestari.