“Kami meminta aparat untuk melindungi kami. Kami hanya menjalankan tugas menjaga proyek Rempang Eco City,” tegas Angga.
Serangan Balasan: Warga Jadi Sasaran Amuk Massa
Tak lama setelah insiden tersebut, situasi semakin memanas ketika sekelompok massa dari PT MEG diduga melakukan aksi balasan terhadap warga. Edi, seorang warga Rempang, mengaku rumahnya diserang oleh puluhan orang yang membawa parang.
“Sekitar 30 orang datang menyerang. Anak saya dipukuli, saya juga kena parang, dan posko warga di Dapur 6 dihancurkan,” ujarnya dengan nada sedih.
Polemik Tak Berujung: Proyek Rempang Eco City Jadi Pemicu
Konflik ini mencuat dari proyek strategis nasional (PSN) Rempang Eco City, yang dikelola PT MEG di bawah naungan Artha Graha Group milik Tomy Winata. Sejak setahun terakhir, warga setempat menolak direlokasi dari lahan yang menjadi tempat tinggal mereka selama puluhan tahun.
Ketegangan yang tak kunjung usai ini terus meningkat seiring dengan upaya pemerintah dan BP Batam untuk melanjutkan proyek tersebut. Aksi saling serang yang terjadi belakangan ini menambah daftar panjang konflik yang melibatkan warga dan pihak pengembang.
Baik warga maupun pihak keamanan PT MEG kini menyerukan agar aparat hukum segera turun tangan untuk menghentikan bentrokan yang berpotensi memakan lebih banyak korban. Hingga berita ini diturunkan, situasi di Rempang masih dipenuhi ketegangan.













