Mawar bingung. Tak paham maksudnya.
Tak lama, di rumah JD meminta Mawar memijat tubuhnya yang pegal. Sebagai PRT, Mawar menurut. Ia dibawa ke kamar. JD membuka bajunya. Mawar memijat, seperti yang diminta majikannya.
Lalu semuanya berubah.
Menurut pengakuan Mawar, ia diperdaya. Mulutnya ditutup, dihalangi untuk bicara atau teriak. Ia tak mampu melawan. Ketakutan membuat tubuhnya membeku. Setelah itu, ancaman datang.
“Dia bilang, kalau cerita ke orang lain, foto bisa disebarkan,” kata Satar.
Ancaman itu cukup membuat Mawar bungkam. Ia takut. Ia merasa sendirian. Sejak saat itu, Mawar mengaku dipaksa berhubungan intim sebanyak lima kali. Setiap kali, ketakutan itu semakin menumpuk.
Terbongkar di Tengah Malam
Semua itu akhirnya terbongkar pada malam ketika konflik pecah di rumah JD. Istri sah JD memergoki suaminya baru saja bersama Mawar di kamar. Mawar disebut masih tanpa busana saat istri JD mengintip dan kemudian melabrak suaminya.
Rumah itu ricuh. Mawar ketakutan. Tak tahu harus berbuat apa. Ia memilih pulang ke rumah ibunya malam itu juga.
Di sanalah, untuk pertama kalinya, Mawar berani berbicara.
Air Mata yang Berujung Laporan Polisi
Mendengar cerita itu, Satar tak bisa tinggal diam. Ia memastikan sendiri pengakuan Mawar, lalu membawa kasus ini ke Polres Natuna. Langkah itu bukan keputusan mudah. Lawan yang dihadapi adalah pejabat, orang berpengaruh, dan memiliki kuasa.













