Ape KesahOpiniZona Headline

“IQ Rendah”: Ketika Bangsa Besar Dicoba Diperkecil oleh Angka Kecil

69
×

“IQ Rendah”: Ketika Bangsa Besar Dicoba Diperkecil oleh Angka Kecil

Share this article
Peta Indonesia. (Foto: Ilustrasi)
banner 468x60

Sesekali, muncul laporan-laporan yang menggemparkan linimasa dan memancing komentar sinis: rata-rata IQ Indonesia disebut “rendah”. Angka 78,49 dari analisis Lynn & Becker (Ulster Institute, 2019) atau klaim serupa dari laporan BKKBN 2022 dijadikan dalih oleh sebagian orang untuk menyimpulkan: “Bangsa ini kurang cerdas.”

Ironisnya, banyak yang mengutip tanpa membaca metodologi. Banyak yang percaya tanpa tahu bagaimana angka itu lahir. Dan yang paling fatal: banyak yang tergesa-gesa merasa inferior hanya karena statistik yang rapuh.

Baca Juga:  57 Keluarga Batu Kapal Akhirnya Punya Rumah Layak: Haru Menyambut Relokasi ke Kampung Puak

Padahal faktanya sederhana: tidak ada satu pun penelitian yang benar-benar mampu mengukur IQ Indonesia secara representatif.

Bangsa 280 juta jiwa, ratusan etnis, konteks sosial-budaya yang amat beragam—dipaksa masuk ke dalam satu angka tunggal. Ini bukan sains. Ini keberanian berlebihan.

Framing “IQ Rendah”: Kolonialisme Baru dengan Kemasan Statistik

Narasi IQ rendah ini bukan hal baru. Dulu, kolonialisme memakai label “kurang cerdas” untuk menjustifikasi penjajahan. Kini, kolonialisme itu berganti wajah: ia hadir dalam bentuk statistik, ranking negara, dan “penelitian” yang metodologinya penuh lubang.

Baca Juga:  Parahnya Banjir Sumut–Aceh–Sumbar: 82 Tewas, 52 Hilang! Ini Data Terbarunya

Ketika ada negara tetangga yang tiba-tiba merasa lebih tinggi IQ-nya, itu bukan sains. Itu strategi membangun hierarki semu, siapa yang punya kontrol narasi, dialah yang tampak unggul.