Bahkan para psikolog dunia pun sudah lama mengingatkan: IQ nasional adalah konsep yang rapuh secara teoritis dan sangat bergantung pada kondisi lingkungan.
Nutrisi mempengaruhi IQ. Akses pendidikan mempengaruhi IQ. Stunting mempengaruhi IQ. Kualitas sekolah mempengaruhi IQ.
Dan semua itu adalah faktor yang bisa diperbaiki bukan bukti bahwa suatu bangsa “kurang cerdas”.
Pertanyaan yang Tak Pernah Mereka Jawab
Jika benar bangsa ini “ber-IQ rendah”, tolong jawab satu hal: Mengapa diaspora Indonesia bekerja sebagai peneliti, insinyur, ekonom, dokter, akademisi, dan profesional kelas dunia di negara-negara maju?
Mengapa perusahaan global merekrut talenta Indonesia dalam jumlah besar? Mengapa inovasi digital lahir dari ekosistem anak muda Indonesia? Mengapa universitas internasional menerima pelajar Indonesia setiap tahun tanpa henti? Narasi inferioritas mereka runtuh oleh fakta.
Masalah Indonesia Bukan Kecerdasan, Tetapi Akses
Yang kita hadapi adalah persoalan pemerataan pendidikan, gizi anak, teknologi, literasi, dan daya dukung ekonomi.
Begitu akses dibuka, kualitas bangsa ini melonjak. Ketika ruang diberikan, anak bangsa bukan hanya bisa bersaing, mereka bisa unggul.
Melawan dengan Ketegasan Intelektual, Bukan Emosi







