Ape KesahOpiniZona Headline

“IQ Rendah”: Ketika Bangsa Besar Dicoba Diperkecil oleh Angka Kecil

128
×

“IQ Rendah”: Ketika Bangsa Besar Dicoba Diperkecil oleh Angka Kecil

Share this article
Peta Indonesia. (Foto: Ilustrasi)
banner 468x60

Padahal secara biologis, genetik, dan historis, tidak ada jarak kecerdasan signifikan antara bangsa di Asia Tenggara. Kesenjangan yang terlihat sesungguhnya adalah kesenjangan kesempatan, bukan kemampuan.

Metodologi yang Problematis, Kesimpulan yang Prematur

Laporan Lynn & Becker tidak melakukan tes nasional. Mereka menggabungkan potongan studi lama, sebagian dilakukan di wilayah kecil, sebagian memakai alat ukur yang tidak disesuaikan budaya, kemudian disulap menjadi “IQ nasional”.

BACA JUGA:  Dari "Pantai Stres" Menuju Pantai Rindu: Metamorfosis dan Sisi Kelam Pantai Piwang Natuna

Contoh: studi Bali (Rindermann & te Nijenhuis, 2012) hanya mencakup satu daerah. Tetapi angka itu diperlakukan seolah mewakili seluruh Indonesia.

Sementara angka tinggi versi tes online yang mengklaim rata-rata 93,2 pun tak bisa dijadikan patokan: sampelnya hanya orang yang melek internet dan sukarela ikut; bukan sampel acak nasional.

Keduanya sama-sama tidak bisa menyimpulkan 280 juta penduduk.

BACA JUGA:  Viral Lagu 'Mas Bahlil Ganteng' untuk Bahlil Lahadalia, Begini Reaksi Resmi Golkar

Singkatnya, yang salah bukan bangsa ini, yang salah metodologinya.

IQ Bukan Kecerdasan. IQ hanyalah Cara Termudah untuk Menyederhanakan Kompleksitas Manusia

IQ mengukur logika, memori, dan pemecahan masalah. Tetapi bangsa dibangun bukan hanya oleh logika.

Bangsa besar hidup dari kreativitas, ketahanan, kemampuan sosial, inovasi, dan karakter. Hal-hal yang tidak bisa direduksi menjadi angka 2 digit.