“Itu membuat ketertarikan orang itu jauh lebih tinggi. Karena sesuatu yang jarang ditemui di kehidupan sehari-hari tiba-tiba muncul itu menjadi orang penasaran dulu di awal pengen kenal secara personal, apa sih kerjaannya, kesibukannya, dan lain-lain. Itu bisa menjadi awal daya tarik untuk calon-calon korban,” imbuh Sari.
Lebih lanjut menurutnya, orang yang rentan menjadi korban penipuan lewat media sosial ini umumnya dalam kondisi sepi tidak ada pasangan, tidak punya banyak teman, atau jarang beraktivitas dengan orang-orang terdekat.
“Atau menampilkan banyak status sendiri, sepi di media sosial. Itu bisa menjadi pancingan untuk orang-orang ingin masuk dan memanfaatkan situasi calon korbannya,” beber Sari.
Mengantisipasi risiko penipuan, Sari mengingatkan orang-orang yang berkenalan atau ‘PDKT’ dengan orang baru di media sosial untuk senantiasa memeriksa ada atau tidaknya mutual friend, beserta mengecek akun orang yang mengajak berkenalan tersebut lewat kanal media sosial lain.
Dengan harapan, bisa mengetahui apakah identitas yang dibawa oleh orang tersebut benar-benar ada atau sekadar identitas palsu.













