Gudangberita.co.id, Batam – Krisis air bersih yang melumpuhkan wilayah Bengkong Kolam selama dua pekan terakhir memicu kecurigaan besar di tengah masyarakat.
Warga menduga bahwa mampetnya aliran air di wilayah mereka bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan dampak dari pengalihan distribusi demi mengamankan wilayah lain di Batam.
Kecurigaan ini muncul setelah warga melihat pola distribusi yang tidak merata. Saat wilayah lain seperti Tanjung Uma dan Batu Merah mengalami gangguan, kawasan Bengkong kerap menjadi titik yang paling lama terdampak dan paling lambat pulih.
Warga menilai ada ketidakterbukaan dari pihak pengelola, PT Air Batam Hilir, mengenai alasan mengapa Bengkong Kolam harus “puasa air” hingga 14 hari lamanya.
Minimnya informasi jadwal distribusi yang jelas memperkuat dugaan bahwa aliran air sengaja diatur untuk memprioritaskan kawasan tertentu.
“Kami curiga, apakah air ke arah kami ditutup atau dialihkan untuk menangani gangguan di tempat lain? Kenapa setiap ada masalah di Batam, Bengkong selalu yang paling parah dan paling lama mati airnya?” ujar seorang warga dengan nada geram.
Di tengah ketidakpastian ini, warga terpaksa begadang hingga pukul 02.00 dini hari hanya untuk menunggu keran yang seringkali tetap kering. Ironisnya, di tengah kondisi tanpa air, imbauan untuk “menghemat air” yang dikeluarkan pengelola justru dianggap sebagai penghinaan bagi warga Bengkong Kolam.













