Gudangberita.co.id, Batam– Warga Batam patut waspada, namun mungkin juga perlu mulai bertanya-tanya. Di saat para ahli iklim memprediksi kedatangan fenomena “Godzilla El Nino” pada April 2026, kondisi waduk-waduk di Batam ternyata sudah menunjukkan tanda-tanda “sekarat” lebih awal.
Volume air di sejumlah waduk utama menyusut drastis bahkan sebelum puncak kemarau ekstrem menghantam. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa krisis air di Batam bukan sekadar soal anomali cuaca, melainkan buntut dari ekosistem yang kian porak-poranda.
Berdasarkan tinjauan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, pada Kamis (26/3/2026), angka penurunan air sudah berada di level lampu kuning:
Waduk Mukakuning: Turun drastis hingga 2,4 meter.
Waduk Sei Harapan: Menurun 51 sentimeter.
Waduk Nongsa: Menyusut 1,2 meter.
Padahal, secara siklus, hujan diprediksi masih akan turun hingga akhir Maret. Namun, kenyataannya cadangan air baku Batam seolah tak mampu lagi bertahan. Mengapa?

Selama ini, kemarau panjang selalu menjadi kambing hitam. Namun, data menunjukkan masalah kronis yang lebih dalam: Sedimentasi dan Pendangkalan akibat perubahan tata guna lahan.
Batam tidak memiliki sungai alami; jantung hidupnya hanya bergantung pada Daerah Tangkapan Air (DTA). Namun, aktivitas pematangan lahan (land clearing) berskala besar di hulu waduk telah mengubah segalanya.













