Keresahan publik ini bukan tanpa alasan. Hilangnya keseimbangan lingkungan di sekitar waduk seperti Sei Ladi dan Mukakuning dianggap sebagai “bom waktu” yang kini mulai meledak.
Pemerintah Kota Batam bahkan harus menempuh “jalur langit” dengan mengajak warga melaksanakan Salat Istisqa di Dataran Engku Putri pada Senin (30/3/2026) mendatang. Sementara itu, BP Batam mulai menyiapkan skema rationing atau penggiliran air jika kondisi tak kunjung membaik.
Ariastuty Sirait mengimbau warga untuk berhemat air dan waspada terhadap kebakaran hutan di area DTA. Namun, tantangan terbesarnya tetap sama: mampukah pembangunan Batam berjalan selaras dengan perlindungan waduk yang kian terhimpit?
Godzilla El Nino mungkin sebuah prediksi, tapi rusaknya ekosistem waduk Batam adalah realitas yang sudah terjadi di depan mata.













