Erosi Masif: Bukit-bukit yang dipangkas (cut and fill), seperti di kawasan Bukit Vista dan sekitarnya, menghilangkan vegetasi penutup tanah.
Lumpur Menggantikan Air: Saat hujan turun, air tak lagi terserap ke tanah, melainkan membawa material pasir dan lempung langsung ke dasar waduk. Akibatnya, waduk yang seharusnya dalam menjadi dangkal (sedimentasi), sehingga kapasitas tampung air bersih berkurang drastis.
Secara teknis, meski hujan turun, waduk tak lagi mampu menyimpan air dalam jumlah besar karena ruangnya sudah habis terisi lumpur. Inilah alasan mengapa waduk di Batam “sudah kering duluan” sebelum El Nino benar-benar mampir.
Jika kondisi waduk sudah kritis sekarang, bayangkan apa yang terjadi saat Godzilla El Nino tiba di bulan April. Profesor Riset BRIN, Erma Yulihastin, menyebut fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu hingga 1,5 – 2 derajat Celsius.
Kombinasi El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif akan membuat penguapan air waduk semakin cepat, sementara curah hujan akan hilang hampir sepenuhnya di wilayah Sumatra dan Jawa.
Keresahan ini terpantau di kolom komentar media sosial @gudangberita.co.id. Warga mulai jengah dengan dalih faktor alam.
“Habisin aja semua hutan, jadiin perumahan atau proyek tanpa ada reboisasi… tanpa mikir gimana nasib generasi mendatang,” tulis salah satu netizen.













