Gudangberita.co.id, Tanjungpinang – Masyarakat Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau diminta lebih bijak dalam mengatur belanja rumah tangga. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, Kota Tanjungpinang mencatatkan angka inflasi tahunan sebesar 5,83% (yoy).
Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan wilayah pemantauan lainnya di Kepri, yakni Batam (3,13%) dan Karimun (4,13%).
Direktur Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P, menjelaskan bahwa secara bulanan, Tanjungpinang mengalami lonjakan harga sebesar 0,99% (mtm).
Kenaikan ini dipicu oleh merangkaknya harga komoditas pangan pokok seperti beras dan cabai merah, serta meningkatnya biaya penyediaan makanan akibat kenaikan harga bahan baku.
Selain pangan, lonjakan harga emas dunia akibat ketidakpastian geopolitik global turut memberikan andil besar terhadap inflasi di kelompok perawatan pribadi.
Menanggapi kondisi ini, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Langkah nyata yang telah dilakukan meliputi pelaksanaan Operasi Pasar atau Pasar Murah serentak serta edukasi kepada masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi. Fokus utama pemerintah saat ini adalah menjamin ketersediaan pasokan di tingkat hulu guna meredam gejolak harga menjelang momentum Ramadan dan Idul Fitri di bulan Maret.













