“Terkait titik jemput penumpang di Kawasan Bandara Hang Nadim Batam yang sudah disepakati bersama oleh Pihak Taksi Bandara (Konvensional) dan Pihak Aliansi Taksi Online Batam hanya bersifat sementara, sampai proses perjanjian kerja sama antara pihak aplikator dengan pihak Bandara International Batam (BIB), dengan tenggang waktu selama dua minggu” begitu isi di poin kedua kesepakatan.
Nah, warga Batam mungkin tak sabar lagi menanti kerjasama antara Bandara Hang Nadim dengan taksi online. Setidaknya keberadaan taksi online bisa menjadi alternatif transportasi low cost warga dari dan ke bandara.
Selama ini, kawasan Bandara Hang Nadim terkesan dimonopoli oleh taksi konvensional. Masyarakat tak bisa memilih layanan. Hanya tersedia angkutan dari dan ke bandara dengan harga yang, hmm… banyak warga kalangan menengah ke bawah terbebani.
Dirut PT Bandara Internasional Batam (BIB), Pikri Ilham Kurniansyah kepada Gudangberita belum lama ini menegaskan, secara umum, bandara berkewajiban menyediakan layanan angkutan transportasi darat dan udara baik layanan premium, midle dan low cost.
“Low cost baru ada Bis Damri, taksi premium belum ada. Kalau di Jakarta ada Golden Bird, Silver Bird, taksi konvesional. Makanya kalau penumpang Garuda (premium) biasanya menggunakan jemputan. Yang midle class ada taksi konvensional. Nah yang low cost belum terlayani,” sebutnya.
Menurutnya banyak milenial, pekerja migran, buruh yang kemampuan mereka bukan naik taksi konvensional, dan membutuhkan taksi online.
“Kami sebagai penyedia bandara wajib menyediakan seluruh transportasi darat yang dibutuhkan masyarakat. Ini yang kita usahakan bagaimana seperti bandara lain, ada layanan premium, konvensional (midel cost) dan online (low cost),” tuturnya.













