Gudangberita.co.id, Batam — Bayang-bayang krisis air baku kembali menghantui Pulau Batam di puncak musim kemarau 2026. Dalam rilis resminya, Badan Pengusahaan (BP) Batam membeberkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan air minum.
Namun, ada satu opsi jangka panjang yang mencuri perhatian sekaligus memicu tanda tanya besar: rencana penerapan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) alias mengolah air laut menjadi air bersih.
Opsi ini mengemuka di tengah peringatan BMKG bahwa 72,8 persen wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau, dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.
Bagi pulau seperti Batam yang tak memiliki sungai alami maupun cadangan air tanah (aquifer), ketergantungan pada waduk penampung air hujan memang menjadi titik lemah yang mematikan saat El Nino melanda.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, menyebutkan bahwa BP Batam bersama PT Air Batam Hilir (ABH) menyiapkan empat jurus antisipasi: pemantauan debit air real-time, interkoneksi jaringan antar-waduk, reboisasi Daerah Tangkapan Air (DTA), serta opsi teknologi SWRO.
“Selain optimalisasi infrastruktur eksisting, BP Batam juga menyiapkan berbagai opsi pengembangan sumber air, termasuk pemanfaatan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sebagai salah satu alternatif pengolahan air laut untuk memperkuat ketahanan air pada masa mendatang,” ujar Denny, Selasa (11/8/2026).













