Ketika fungsi hutan pendukung waduk rusak, daya tampung air hujan menurun pesat akibat pendangkalan (sedimentasi). Akibatnya, setiap kali musim kemarau tiba, kapasitas waduk merosot drastis dan pemerintah daerah dipaksa memikirkan cara terekstrem: mengolah air laut.
Beban Hemat Air Tetap di Tangan Warga
Di saat wacana teknologi mahal bergulir, BP Batam tetap meminta masyarakat untuk berhemat. Warga diimbau rutin memeriksa kebocoran pipa rumah tangga, mematikan keran, serta mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan sekunder.
Langkah hemat air di tingkat rumah tangga memang krusial untuk bertahan di kemarau 2026 ini. Namun, masyarakat Batam patut bertanya-tanya: apakah imbauan hemat air dan opsi penyulingan air laut ini adalah solusi jangka panjang yang adil, atau sekadar harga mahal yang harus dibayar warga akibat kurang tegasnya perlindungan terhadap hutan waduk yang ada?













