“Kapal besar yang lewat selalu melapor ke Changi Radio Singapura karena jalur ini dimonitor Singapura,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengakui tindakan SPCG terlalu agresif. “Mereka seharusnya tidak bertindak berlebihan hingga membahayakan nelayan, ucapnya.
“Kalau SPCG masuk ke perairan Indonesia juga tidak, tidak ada bukti mereka memasuki perairan Indonesia, karena Angkatan Laut Indonesia terus memantau area ini 24 jam,” tambahnya.
Respons Bakamla RI
Menanggapi kejadian ini, Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI langsung bergerak. Tim Bakamla menemui nelayan Pulau Terong untuk mendalami informasi terkait insiden tersebut.
Penata Layanan Operasional Letda Bakamla Ryan Widiono menyatakan, Bakamla akan memberikan penyuluhan terkait batas-batas wilayah agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami juga menerima banyak laporan melalui contact center mengenai tindakan membahayakan dari SPCG,” ujar Ryan.
Kapten Bakamla Yuhanes Antara menambahkan, pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada para nelayan mengenai aturan perairan internasional. “Ini penting agar nelayan memahami area yang diperbolehkan, sehingga tidak memicu konflik lintas batas,” jelasnya.
Para nelayan berharap pemerintah dapat lebih aktif melindungi mereka. “Jika kami melanggar, tegur kami dengan cara yang baik, bukan dengan tindakan yang membahayakan,” pinta Jemisan.













