Ketegangan kian memuncak hingga sejumlah anggota DPRD yang hadir terpancing emosi. Beruntung, suasana panas berhasil diredam oleh pihak pengamanan dan tokoh masyarakat yang turut hadir.
Bukan Sekadar Sidak: Perseteruan yang Menyingkap Banyak Luka
Konflik ini menyibak konflik laten yang selama ini bergulir di Batam — soal perizinan yang tumpang tindih, pengelolaan lingkungan yang amburadul, hingga tudingan adanya aktor politik besar di balik proyek-proyek kontroversial.
Dalam sidak tersebut, Claudia bahkan menyebut bahwa izin cut and fill tidak mungkin keluar tanpa adanya izin AMDAL dari provinsi. Di sisi lain, Aseng, pengusaha PT Citylink, mengaku terjebak dalam “sistem” yang membingungkan.
“Kami sudah ajukan patwa planologi dua tahun lalu, belum juga selesai. Bagaimana kami mau bangun kalau izin saja tak keluar?” keluh Aseng.
Nama-nama pejabat besar pun ikut terseret. Selain Lik Khai yang dituding sebagai aktor penimbunan DAS Baloi, Yusril juga menyebut lokasi lain seperti cut and fill di area Vista Hotel dan Bukit Daeng, serta menyebut nama Wakil Gubernur Kepri Nyanyang hingga nama Soerya Respationo.
“Kalau mau adil, ayo kita sidak ke semua lokasi hari ini juga!” tantang Yusril.
Claudia menegaskan, tidak ada ‘bekingan’ dalam penegakan hukum. Ia menolak tuduhan bahwa BP Batam tutup mata terhadap pelanggaran lingkungan.













