Meski begitu, Amsakar menegaskan bahwa pihaknya akan terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan landmark baru ini bisa terealisasi, bahkan menjadi ikon baru kebanggaan Batam di masa depan.
Fenomena hilangnya visibilitas WTB menjadi pengingat bahwa kemajuan pembangunan tak boleh mengorbankan identitas kota. Dulu, landmark ini bukan sekadar hiasan, tetapi penanda rasa: bahwa Batam siap menyambut siapa saja dengan tangan terbuka.
Kini, “Welcome to Batam” tinggal menjadi siluet yang tertutup kaca, beton, dan ambisi, hingga kelak muncul kembali di tempat yang lebih pantas—mewakili semangat Batam yang tetap ingin menyapa.












