Batam Punya CeritaZona Headline

Satu Trayek Sehari, Seribu Doa Tiap Malam: Kisah Guru di Ujung Batam

1135
×

Satu Trayek Sehari, Seribu Doa Tiap Malam: Kisah Guru di Ujung Batam

Share this article
Penampakan transportasi yang biasa digunakan para guru untuk bertugas mengajar ke Pulau Kasu. (Foto: dok. Gudangberita)
banner 468x60

“Kalau cuaca buruk, ya terpaksa telat jemput. Kadang cuma anak saya saja yang masih di sekolah,” kisah Irfon.

Bukan hanya fisik yang lelah, tapi dompet pun turut terkuras. Setiap bulan, Irfon harus menyisihkan sekitar satu juta rupiah hanya untuk patungan carter speedboat bersama guru-guru lain yang tinggal di Batam. Tak ada subsidi, tak ada asuransi. “100 ribu per hari untuk transportasi speed saja,” katanya. Gaji sekitar empat juta rupiah sebulan—sudah termasuk tunjangan—terasa cepat habis untuk kebutuhan dasar dan biaya transportasi laut yang mahal.

BACA JUGA:  Batam Darurat Laka Lintas: 13 Nyawa Melayang dalam 3 Bulan, Ombudsman Desak Evaluasi Total

Bu Nelly, yang kini sudah berstatus PNS, juga punya kenangan yang membuat bulu kuduk berdiri. “Pernah kami hampir terbalik di laut. Mesin mati, arus kuat menyeret kami ke pusaran air. Tekong kapal bilang: ‘Kita harus maju, kalau mundur kita tenggelam.’ Itu pengalaman yang tak pernah saya lupakan,” kenangnya.

Pulau Kasu dikenal sebagai salah jalur rawan di lautan Batam—“segitiga bermuda”-nya Batam, demikian warga setempat menyebut kawasan perairan dekat Pulau Lima itu. Gelombang tak kenal ampun, angin yang bisa berubah dalam hitungan menit, dan arus laut yang kuat menjadi teman harian para guru ini.

BACA JUGA:  Ironi 17 Persen: Mengapa Ekonomi Natuna Meroket Tapi Rakyat Belum Sejahtera?

Bahkan saat air surut, mereka harus turun dari dermaga tradisional, menggulung celana, menapaki lumpur untuk naik ke speedboat—semuanya demi satu hal: agar anak-anak pulau tetap mendapatkan haknya untuk belajar.