Irfon sempat trauma ketika dulu bertugas di Lingga. Speedboat yang ditumpanginya mati mesin di tengah laut. “Saya berhenti. Baru dua bulan ngajar waktu itu. Saya nggak kuat,” ucapnya jujur. Tapi takdir mempertemukan lagi dirinya dengan tugas di pulau. Bedanya, kali ini dia memilih untuk bertahan.
Selama 13 tahun menjadi guru honorer sebelum diangkat jadi P3K, Irfon menyimpan banyak kisah getir. “Pernah 100 hari nggak gajian. Susu anak habis, sementara penghasilan belum ada,” ujarnya pelan, nada suaranya menahan getir.
Kini, meski sudah P3K, perjuangan mereka belum banyak berubah. Jaminan keselamatan masih jadi harapan yang tak kunjung terwujud. Transportasi umum hanya ada satu trayek per hari, memaksa para guru harus patungan menyewa speedboat sendiri agar tak terlambat mengajar.
Di balik semua risiko itu, mereka tetap bertahan, tetap setia. “Biar saya nggak bisa berenang, asal selalu pakai pelampung dan berdoa,” kata Irfon sambil tersenyum, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
Guru-guru di hinterland seperti Irfon dan Bu Nelly adalah wajah nyata dari pengabdian yang kadang luput dari perhatian. Mereka tak hanya mempertaruhkan kenyamanan, tapi nyawa mereka sendiri demi memastikan pendidikan tetap berjalan di sudut-sudut negeri yang jauh dari gemerlap kota.













