HUJAN tumpah ruah membasahi Kota Batam pada Senin sore, 5 Mei 2025. Petir menyambar langit kelabu, seakan menggambarkan kerasnya perjuangan yang dijalani tiga sosok yang berteduh di depan sebuah ruko kawasan Imperium, Batam Center. Dua pria dan seorang wanita tampak menunggu hujan reda, sekilas tampak seperti orang kebanyakan—namun siapa sangka mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang tengah beristirahat sejenak dari medan juangnya.
“Numpang berteduh, ya,” sapa salah seorang pria, senyum ramah tersungging meski tubuhnya menggigil oleh dingin sisa perjalanan. Dialah Irfon, guru P3K di SMA Negeri 7 Pulau Kasu, sebuah daerah hinterland Batam yang hanya bisa dijangkau lewat lautan. Bersamanya, Bu Nelly, guru yang juga mengabdikan hidupnya untuk anak-anak di pulau itu.

Mereka berbagi cerita tentang suka duka yang tak semua orang tahu: perjuangan mengajar di pulau terpencil dengan risiko yang tak main-main. Setiap hari, Irfon yang tak pandai berenang harus membelah lautan dengan speedboat kecil selama 45 menit, kadang bisa satu jam saat cuaca buruk.
Pria ini tak hanya guru, tapi juga seorang ayah dari dua anak. Tugasnya berlapis: pagi-pagi mengantar anaknya sekolah, lalu berlayar ke Pulau Kasu, pulang petang dalam kelelahan, kadang harus bergegas menjemput anak yang sudah menunggu sendirian di sekolah.













