Nakhoda langsung menginstruksikan penyisiran menyeluruh di seluruh dek, lorong, dan ruang kapal serta mengumumkannya melalui pengeras suara.
Hasil audit CCTV menunjukkan korban terekam kamera sedang berjalan di lorong dekat dek bar/kantin kapal pada Selasa (21/7/2026) pukul 22.47 WIB—sebelum kapal bertolak resmi pada pukul 23.00 WIB.
Begitu kapal bersandar di Pelabuhan Tambelan, pemeriksaan ulang dilakukan di area kapal hingga dermaga, namun korban tetap tidak ditemukan.
Sejak menerima laporan resmi dari pihak ASDP, KPP Tanjungpinang langsung mengerahkan personel untuk koordinasi awal dan pemapelan (broadcast) ke kapal-kapal yang melintas di rute tersebut.
Pada Kamis (23/7/2026) pagi, eskalasi pencarian ditingkatkan secara masif. KN SAR 209 dikerahkan membawa 22 personel rescuer dari Dermaga Kampung Bulang. Area pencarian menuju titik duga jatuh (Last Known Position) yang berjarak 37 Nautical Mile (Nm) pada radial 130°.
Pola pencarian menyisir sepanjang jalur yang dilewati KMP Bahtera Nusantara 03 dengan bentangan area sejauh 40 Nm dan track spacing 2,5 Nm.
Meskipun penyisiran intensif telah dilakukan hingga Kamis sore, keberadaan Christina Lindasari belum membuahkan hasil. Operasi SAR terus dilanjutkan dengan memperluas jangkauan komunikasi ke armada nelayan lokal di sekitar perairan Bintan dan Lingga. Hingga Jumat (24/7/2026) siang pencarian masih dilakukan.













