“Kami percaya, masa depan industri ditentukan oleh seberapa bertanggung jawab kita terhadap bumi. Produktivitas dan keberlanjutan harus berjalan seiring,” tambah Ardian.
2.000 Pekerja, 6.000 Jiwa Menggantungkan Harapan

Sebagai industri padat karya, PT Esun kini mempekerjakan lebih dari 2.000 tenaga kerja lokal. Jika dihitung dengan keluarga mereka, sekitar 6.000 jiwa menggantungkan kehidupan pada keberlanjutan perusahaan ini.
Kepedulian terhadap karyawan juga menjadi prioritas. Setiap tahun, perusahaan menyalurkan Rp98 miliar untuk gaji, Rp14 miliar pajak, dan Rp30 miliar kontribusi BPJS. Total investasi Esun sejak berdiri telah mencapai Rp50 miliar.
“Dari operator, kini saya bisa membiayai kuliah anak. Perusahaan memberi ruang tumbuh bagi kami,” tutur Dedi, salah satu karyawan PT Esun.
Diuji, Tapi Tidak Menyerah

Akhir September lalu, PT Esun sempat menghadapi ujian. Impor bahan baku perusahaan dihentikan sementara untuk keperluan pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Alih-alih reaktif, manajemen justru mengambil pendekatan kolaboratif — membuka komunikasi, menyerahkan data, dan bersedia menjalani proses pembinaan.
“Kami siap memperbaiki setiap kekurangan teknis, karena kami percaya pembinaan lebih produktif daripada sanksi. Yang penting, jangan sampai niat baik dan investasi sehat terhenti karena salah persepsi,” tegas Ardian.












