Respati Hadinata, Koordinator Wilayah Sumbagut BEM SI, menyoroti isu ini sebagai simbol ketimpangan sosial. “Di balik dalih pembangunan, masyarakat adat yang tinggal ratusan tahun di sana justru dianggap penghalang. Ini kapitalisme yang menyingkirkan hak rakyat,” ujar Respati.
Mahasiswa menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam aksi solidaritas. “Ini bukan hanya soal Pulau Rempang, tapi soal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan biarkan ketidakadilan ini menjadi preseden buruk,” tambah Respati.
Desakan kepada Pemerintah
Mahasiswa menuntut BP Batam dan pemerintah daerah untuk segera menyelesaikan konflik ini secara adil tanpa mengorbankan masyarakat adat. Mereka juga meminta penghentian tindakan represif serta penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan.
Aksi yang direncanakan ini tidak hanya menjadi perjuangan masyarakat Pulau Rempang, tetapi juga simbol perjuangan melawan ketidakadilan di tengah ambisi pembangunan nasional. “Keadilan untuk Rempang adalah keadilan untuk Indonesia,” seru para mahasiswa.













