Bahu jalan yang seharusnya menjadi forgiving road (ruang penyelamat) bagi kendaraan yang hilang kendali, kini justru terokupasi oleh benda keras yang fatal jika dihantam pada kecepatan tinggi.
Merespons kritik mengenai jarak pot yang terlalu mepet dengan aspal, BP Batam berjanji akan melakukan pengaturan ulang (adjustment). Ariastuty menyampaikan terima kasih atas masukan masyarakat dan memastikan keselamatan akan menjadi bahan evaluasi.
“Untuk peletakannya yang terlalu dekat dengan jalan, nantinya akan lebih dijauhkan kurang lebih 5 meter agar tetap tersedia bahu jalan untuk kendaraan berhenti dalam keadaan darurat,” pungkasnya.
Selain alasan visual, pemilihan bougenville dilakukan karena tanaman ini tahan iklim tropis, minim perawatan, dan mampu bertahan di lingkungan perkotaan yang panas. Saat ini, pihak BP Batam masih menunggu pengiriman sisa tanaman dari Pulau Jawa untuk melengkapi penataan tersebut.
Meski ada janji penggeseran, publik tetap mendesak agar selama proses pengerjaan taman belum selesai, pot-pot tersebut diberi tanda peringatan atau marka reflektif. Hal ini krusial agar pot tidak menjadi ancaman bagi pengendara di malam hari yang minim penerangan.
Modernisasi Batam untuk tampil glow up memang patut diapresiasi, namun warga berharap ambisi estetika tidak sampai mengesampingkan keselamatan nyawa di jalan raya.













